Make your own free website on Tripod.com
Narkoba,Sejarah Panjang yg Berbahaya


Oleh H.Unas Suria Wiria
Sabtu, 02 Juli 2005

NARKOBA ternyata dapat dijadikan "alat" ataupun bahan untuk memicu perang di antara negara ataupun kelompok negara, atau kelompok di dalam negara itu sendiri. Cina dengan Inggris pernah perang karena narkoba, yang berlangsung pada tahun 1839-1842. Perang tersebut dikenal dengan "Perang Candu".

Inggris pada tahun 1800-an menghendaki agar pemerintah Cina membuka pelabuhan-pelabuhannya untuk perdagangan antarnegara, tetapi pada akhirnya keinginan Inggris tersebut tidak dapat diterima oleh pemerintah Cina. Bukan juga Inggris kalau kemudian tidak dapat memaksa Cina ataupun negara lainnya untuk kehendaknya itu. Maka dilakukanlah "perang lain" untuk membuka kehendaknya itu dalam bentuk perdagangan-gelap candu.

Sudah sejak tahun 1880-an, Ingris memasukkan candu ke wilayah Cina, sehingga mengakibatkan perdagangan obat bius ini merajalela secara cepat di daratan Cina dengan akibat-akibatnya yang sangat menghawatirkan dan membahayakan, khususnya terhadap masyarakat luas yang benar-benar sudah "kecanduan" candu.

Dengan cara ini para pedagang candu Inggris memiliki keuntungan sangat besar, serta pemerintah Inggris mmpunyai alasan untuk memaksakan kehendaknya. Tetapi pemerintah Cina tidak dapat menerima keadaan tersebut. Atas perintah Kaisar, semua simpanan candu bernilai puluhan juta dolar di Kota Kanton, dibakar habis dan dihancurkan pada tahun 1839.

Maka perang antara Cian dengan Inggris karena Inggris tidak dapat menerima "alasan" pembakaran candunya di Kanton, pecah, dimulai tahun 1839 dan berakhir tahun 1842 dengan kekalahan di pihak Cina.

Akibatnya pada tahun 1842 diadakan Perjanjian Nanking (sekarang Nanjing). Isi dari perjanjian itu antara lain Cina harus membuka pelabuhan-pelabuhannya untuk perdagangan antarnegara, seperti pelabuhan Kanton, Syanghai, Amoy, Foochow dan Ningpo untuk perdagangan Inggris. Selain itu, Cina juga harus menyerahkan pulau Hong Kong kepada Inggris yang kemudian menjadi pusat perdagangan terkenal di timur-jauh.

**

DI antara jenis-jenis tanaman yang sudah dikenal, tanaman candu atau Papaver somniferum telah menjadi primadona yang dapat mendatangkan keuntungan besar di dalam bisnis (umumnya bisnis gelap) tetapi juga dapat mendatangkan bahaya dan kerugian, baik materi maupun kejiwaan.

Dari bentuk dan warna bunganya yang sangat menarik, yang sejauh mata memandang terhampar di kebunnya yang luas di daerah sekitar Thailand utara serta daerah lainnya yang berbatasan (disebut daerah segitiga emas), orang tidak akan menyangka bahwa tanaman tersebut dapat menghasilkan senyawa kimia yang menghebohkan dunia berbentuk opium atau heroin.

Di dalam keindahan bunganya yang merah kekuning-kuningan inilah, kelak akan terbentuk buah berbentuk bulat sebesar bola pingpong yang kalau ditoreh atau dikerat akan mengeluarkan semacam "getah" berwarna putih terdiri dari alkaloida yang kaya nitrogen.

Hasil analisa yang dilakukan oleh pakar farmasi Jerman tahun 1815 Dr. F. Serturner, cairan putih tersebut bersusunan-kimia C17H19NO3 yang diberi nama morpheus atau nama Dewi Mimpi Orang Yunani (maksudnya karena pengguna senyawa ini akan dapat fly atau bermimpi indah).

Sejak abad ke-4 sM, para printis dunia pengobatan barat seperti Hippocreates, Dioscorides dan Galen sudah mengetahui khasiat candu sebagai penghilang rasa sakit, batuk dan tidur lebih nyenyak. Sedangkan tahun 1530, Paracelcus telah mencapur candu dengan alkohol menjadi cairan obat yang diberi nama laudanum, sehingga hampir semua obat berkhasiat pada saat itu rata-rata mengandung laudanum.

Dari nama Morpheus itulah kalau kemudian timbul nama morfin untuk hasil olahan buah candu, sehingga seseorang yang kecanduan umum pula disebut morfinis.

Segi positif kehadiran morfin di dalam pengobatan, tentu saja tidak dapat dipisahkan dari salah satu cara untuk mengurangi rasa sakit yang berlebih. Seperti misalnya terhadap prajurit di medan perang yang menderita luka parah, maka untuk mengurangi rasa sakitnya oleh dokter akan diberi suntikan morfin.

Perdagangan gelap dan kemudian penyalahgunaan candu dimulai tahun 1898, ketika di beberapa kota besar dunia, khususnya di Amerika dan Eropah muncul "serbuk putih" heroin, yang digunakan sebagai obat pengurang rasa sakit, obat batuk dan obat diare.

Di dalam tubuh manusia, akan berurai komposisinya menjadi morfin kembali. Tetapi kalau heroin disuntikkan ke dalam tubuh melalui pembuluh darah, akibat yang pertama dirasakan adalah perasaan nikmat yang penuh sensasi, dalam waktu yang relatif singkat. Karenanya, orang atau pengguna kemudian ketagihan untuk berulang-ulang menggunakannya, terutama kalau rasa hatinya menjadi gundah atau perasaan tidak enak lainnya.

Akibat perdagangan gelap dan penyalah-gunaan candu, AS memang merupakan negara tertinggi dan terparah, sehingga menurut catatan DEA, setiap tahunnya pasaran candu disamping narkotika lainnya, di AS, bernilai tidak kurang dari USS 4,- miliar atau sekitar Rp 27 triliun. Jumlah yang tidak sedikit.

Angka tersebut ternyata masih "kecil" kalau dibandingkan dengan kokain, karena setiap tahun edaran dan bisnis kokain di AS bernilai US 18,- miliar dan US$ 44 miliar untuk mariyuana. Hanya sejak dari penadah sampai konsumen / pengguna harga heroin dapat naik sampai 90%, sedang harga kokain naik sampai 200% saja, sama seperti untuk harga ganja.

Heroin yang diselundupkan ke AS setiap tahunnya sekira 4 metrik ton, 50% di antaranya berasal dari kawasan Parhan, yaitu sekitar perbatasan Afghanistan dan Pakistan.

Kawasan yang termasuk lembah Shewa Khwar dan lembah Siah di Pakistan, Rajasthan di India juga kawasan yang sangat terkenal dengan "Segitiga Emas" yang termasuk daerah Thailand, Burma dan Laos, merupakan daerah perkebunan candu terluas di dunia.

Salah satu negara yang dikenal sebagai candu terbesar di dunia secara resmi adalah India. Setiap tahunnya sejumlah besar candu dikirim ke negara tujuan yang akan dipergunakan sebagai bahan campuran obat yang dihasilkan, oleh lebih kurang 170.000 petani tanaman candu yang dihaluskan menjual hasil candunya kepada pemerintah dengan harga resmi sekira US$ 15 per kg (bandingkan dengan harga sekali suntik untuk heroin di AS sekira US$ 35).

Pabrik pengolahan candu terbesar juga terdapat di India, yaitu di Madhya Pradesh. Perusahaan milik pemerinatah ini setiap harinya harus menjemur sekira 800 buah loyang yang masing-masing berisi 35 kg.

**

TENTU saja, karena harga candu gelap sangat mahal, maka usaha pencurian akan selalu terdapat, sehingga penjagaan ketat dilaksanakan selama 24 jam terus menerus. Ada sekira 2/3-kebutuhan candu AS secara resmi sebagai bahan obat, didatangkan dari India, disamping India juga merupakan pemasok candu untuk negara Rusia, Peracis, Inggris dan Jepang.

Mengapa India terlibat di dalam perkebunan dan pengolahan hasil candu? Ternyata masalahnya karena didukung oleh sejarah panjang sejak zaman kaisar/raja India tempo doeloe.

Sudah sejak zaman dulu rakyat India merupakan pengguna candu yang disebabkan karena tradisi dan tidak dilarang oleh pemerintah. seperti misalnya para prajurit pasukan gajah dari Kekaisaran Mogul yang terkenal, selalu mendapat bagian beberapa "cekak" candu untuk meningkatkan keberanian mereka, terutama di medan perang. Bahkan Kaisar Shah jahan pendiri Taj Mahal yang terkenal sampai sekarang, merupakan pengguna candu, yang biasaya dicampur dengan minuman anggur.

Sekarang kebiasaan lama terhadap candu, masih berlangsung. Seperti misalnya untuk para pekerja kasar yang selalu menelan sebutir candu yang mereka sebut goli yang ditenggak bersama air teh. Juga para sopir truk yang mengendarai truknya dalam jarak jauh, goli merupakan obat kuat penambah dan peningkat stamina kekuatan tubuh mereka.

Walau begitu tetap candu atau opium merupakan benda pembawa petaka kalau disalahgunakan, seperti yang akhir-akhir ini banyak terjadi di mana-mana. Sehingga pada akhir abad ke-19, AS telah mengadakan perjanjian dengan Cina yang berkaitan dengan pengawasan dan pencegahan terhadap perdagangan / peredaran secara gelap serta penyalahgunaannya. Sebuah fakta internasional kemudian disusun dalam bentuk "International Opium Commission" pada tahun 1909 di Thailand.

Juga dua tahun sekali, Komisi Pengawasan Narkotika PBB melakukan pertemuannya di Wienna, Australia, untuk membahas masalah narkotika, di samping kampanye antipenyalahgunaan narkotika terus digiatkan di tiap negara, terutama di Australia dan Spanyol, negara akhir-akhir ini meningkat tajam pengguna dan penyalah-gunaan narkotika, di samping AS yang sudah benar-benar kecanduan secara mendalam.

Ada beberapa masalah dan kendala yang menghambat usaha PBB untuk meningkatkan dan menggalakkan kampanye anti-penyalahgunaan narkotika. Pertama adanya jaringan internasional yang sangat rapi, kuat, dan memiliki kekuasaan besar di dalam pengendalian kelancaran lalu lintas edaran-gelap narkotika antar negara atau antar tempat. Kedua, jual beli narkotika di pasar gelap dengan nilai miliaran dolar, banyak kaitannya dengan "penyalahgunaan wewenang / kekuasaan" dari sekelompok penguasa yang berkaitan erat pula dengan kebobrokan mental korup para pejabat negara. Ketiga, bagaimana harus mengawasi arus lalu lintas angkutan udara yang melibatkan lebih dari 600.000 penumpang dari satu negara ke negara lain.

Walau begitu, Komisi PBB Anti penyalahgunaan narkotika serta perdagangan gelapnya, tetap bertekad untuk meningkatkan kegiatannya, apa pun hambatan, halangan ataupun kendala yang harus dihadapi. Karena kalau terus dibiarkan, bagaimana masa depan dunia mendatang?***

Back